Thursday, August 10, 2006

BLUE BIRD

MEMBENTUK brand memang bukan urusan komunikasi pemasaran belaka. Terlebih-lebih untuk bisnis jasa yang bersinggungan langsung dengan klien atau konsumen. Roh brand itu sendiri justru bersumber dari iklim yang dibangun dalam perusahaan.
Pekan lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta untuk sebuah pertemuan bisnis. Dari sebuah hotel di daerah Kemang, saya menggunakan Taksi Blue Bird menuju tempat pertemuan. Sore hari saya kembali ke hotel. Setiba di kamar, saya ditelepon resepsionis yang mengabarkan bahwa ada tas kecil tertinggal di taksi ketika saya berangkat pagi tadi. Alamak! Saya saja lupa kalau ada tas kecil dan ternyata tertinggal di taksi.
Barang tertinggal di Taksi Blue Bird sebenarnya sudah beberapa kali terjadi pada sejumlah teman. Ceritanya berakhir dengan pengembalian barang yang tertinggal. Ada semacam garansi dari Blue Bird bahwa barang yang tertinggal bakal kembali. Tak hanya itu, di Jakarta juga terbentuk imej positif terhadap Blue Bird sebagai taksi yang aman dan nyaman. Bahkan, istri saya selalu mengingatkan agar saya menggunakan Taksi Blue Bird jika bepergian selama di Jakarta.
Saya pun tertarik untuk mencari tahu, apa yang dilakukan manajemen Blue Bird untuk menumbuhkan iklim keamanan dan kenyamanan bagi penumpang. Rasanya, Blue Bird jarang beriklan atau melakukan kegiatan komunikasi pemasaran lainnya untuk membentuk brand ia sebagai taksi yang aman dan nyaman.
Akhirnya, dari sejumlah perbincangan dengan berbagai sumber termasuk beberapa sopir Blue Bird, saya dapat menyimpulkan bahwa manajemen Blue Bird memang sangat konsen membentuk brand imej positif usaha jasa transportasinya, yang dimulai dari internal perusahaan.
“Untuk menjadi sopir di Blue Bird ini saja, susah banget, Pak! Tesnya berat,” kata beberapa sopir. “Tapi kalau sudah jadi karyawan, kita dijamin sejahtera, Pak. Mulai dari gaji sampai dinaikkan haji,” imbuhnya.
Untuk menciptakan iklim ketenangan bekerja dan menumbuhkan kejujuran, manajemen Blue Bird memang sangat memperhatikan masalah kesejahteraan. Ada gaji, ada insentif, bebas biaya berobat untuk para sopir dan keluarganya, bahkan naik haji bagi sopir dengan masa kerja tertentu.
Untuk menjadi karyawan, banyak ujian yang harus dilalui. Ujian kejujuran antara lain dengan cara mengirim orang tertentu yang juga karyawan pool yang berbeda –Blue Bird memiliki beberapa pool di Jakarta. Ketika si penguji berpura-pura sebagai penumpang, ia meninggalkan barang saat mengakhiri perjalanannya. Jika barang tak kembali, maka si sopir dipanggil ke pool untuk diintrogasi.
“Kenapa barang saya nggak Anda kembalikan? Anda nggak jujur ya?!” kata si penguji tadi, yang kemudian terjadilah perdebatan. Si penguji menyebutkan waktu dan tempat dimana ia mulai dan mengakhiri perjalanannya dengan taksi yang tidak jujur tadi.
“Standar pelayanannya, ketika penumpang turun, sopir memeriksa tempat duduk penumpang. Jika ada yang tertinggal, maka tidak keburu diambil oleh penumpang selanjutnya,” kata sopir yang ngobrol dengan saya.
Untuk membuat sopir taksi tidak ugal-ugalan di jalan, manajemen memberi sanksi terhadap taksi yang rusak karena tabrakan atau sekedar nyerempet. Saksi berupa biaya perbaikan yang pembayarannya dengan cara dicicil setiap bulannya. Ini untuk membuat efek jera.
Mobil operasional (taksi) pun tidak menggunakan sistem kepemilikan bagi si sopir. Taksi sepenuhnya milik manajemen Blue Bird. Dengan demikian, ada tanggungjawab yang lebih pada si sopir untuk menjaganya agar tidak tergores atau tabrakan. Penumpang pun merasa nyaman di dalam kendaran.
“Kalau (taksi) menjadi milik kita, sopir mah ugal-ugalan. Merasa milik sendiri. Kalau tabrakan paling istri yang marah. Nggak dirawat, asal aja,” ujar si sopir.Brand memang tak semata menjadi urusan komunikasi pemasaran ataupun public relations. Mulailah dari sikap pimpinan atau manajemen untuk menciptakan iklim yang mendukung kondusifnya lingkungan kerja. Membangun brand, harus dimulai dari diri sendiri. ***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home