Thursday, August 10, 2006

Re-branding Tiara Lestari


MENARIK mencermati upaya rebranding yang tengah dilakukan Tiara Lestari, model Indonesia yang pernah tampil di majalah Playboy Spanyol edisi Agusus 2005 lalu. “Dari sensual ke elegan”, itu slogan citra (tag line) yang ia pilih. Rebranding dari imej model sensual karena tampil di majalah Playboy, menjadi model Indonesia yang elegan, jauh dari keseronokan.

Sejumlah tawaran job untuk tampil seksi pun tak sedikit yang ia tolak, karena ia sudah bertekad melakukan repositioning. “I’m not sensual model. I’m elegance model,” begitu kira-kira komitmen Tiara.

Tiara Lestari memang fenomenal, sampai-sampai dinobatkan sebagai tokoh sensasional oleh Majalah Rolling Stone Indonesia. Ini karena ia menjadi buah bibir banyak orang setelah tampil di Majalah ber-icon kepala kelinci dengan dasi kupu-kupu itu. Tangis ibunyalah yang membawa ia pulang ke Indonesia setelah lama menetap di Singapore untuk kemudian menjadi seorang model yang elegan.

Program rebranding “Dari sensual ke elegan” dibarengi dengan sejumlah brand activity lainnya, mulai dari peluncuran blog pada 27 September 2005 hingga pameran foto-foto terbarunya di pusat perbelanjaan baru Sudirman Palace, Jakarta 22-30 April 2006. Foto-foto karya Ayang Kalake ini pun jauh dari keseronokan, sesuai temanya 'From Sensual to Elegance'.

Memang, imej model porno sangat kental melekat pada diri Tiara, karena ia pernah tampil di Majalah Playboy dan beberapa majalah lainnya seperti FHM Singapura, FHM Jerman, People's Magazine Australia, Penthouse Thailand, Belanda dan Australia.
Bahkan blog pribadinya yang beralamat di tiaralestari.blogspot.com berjudul 'Tiara Lestari's Personal Journal' masih diwarnai oleh beragam komentar pengunjung yang menudingnya sebagai model yang bisa diajak tidur bareng. “Saya nggak perlu menanggapi komentar itu. Tapi saya juga harus tetap jujur untuk tidak menghapus komentar tersebut dari blog saya,” ujar Tiara. Sebuah sikap yang bijak dari rangkaian desain strategi re-branding Tiara.

Yang pasti, blog Tiara begitu banyak dikunjungi oleh masyarakat cyber yang tak hanya dari Indonesia tapi dunia. Memang, indonesia negara yang mendatangkan unique visitor terbanyak, mencapai sekitar 41,1% pada blog Tiara. Menurut catatan Tiara pada Februari 2006 lalu, pengunjung dari Amerika (22,6%), Singapura (8,7%), Malaysia (8,3%), Australia (3%) dan Canada (2,7%). Sedangkan negara-negara lain, semisal Jepang, Jerman, Inggris, Belanda dan Perancis secara kolektif mencapai 6,5% dari total yang ada.

Tiara menurut saya, berhasil melakukan rebranding & repositioning. Dalam waktu singkat, ia mampu mengangkat citra dirinya untuk memasuki dunia baru, dunia tanpa unsur pornografi. Profesi baru pun tengah ia siapkan. Namun belum ia putuskan untuk menjadi bintang film layar lebar, bintang sinetron, presenter, penyanyi atau memuat program acara sendiri di televisi.

Menariknya, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama memutuskan, bidang apa yang akan ia pilih. Secara khusus Tiara membuka poling pengujung untuk memberinya masukan atas pilihan-pilihan tersebut. “Masih belum ada pilihan. Kalau jadi penyanyi kecil kemungkinan. Karena kemampuannya tidak mendukung,” kata Tiara dalam sebuah wawancara media.

Dari poling yang masuk, paling banyak mendukung agar Tiara menjadi bintang film layar lebar. Kemudian diikuti dukungan untuk menjadi presenter dan memiliki program sendiri di televisi. Terakhir, hanya 3 persen yang mendukung ia menjadi penyanyi.

Tiara tengah membangun komunikasi dua arah dengan masyarakat dalam upaya rebranding citranya. Saya sudah dapat membayangkan, apapun pilihan Tiara nantinya, akan menjadi sesuatu yang booming. Jika ia memilih menjadi bintang layar lebar, maka filmnya bakal laku keras. Jika ia memiliki program acara sendiri di televisi, maka acara tersebut akan mendapat ratting tinggi dengan jumlah penonton yang banyak pula.

Apa yang dilakukan Tiara, paling tidak dapat menjadi contoh bagi Anda yang berkepentingan terhadap upaya membangun citra pribadi (personal branding), terlebih-lebih Anda politisi di daerah di era pemilihan langsung saat ini. Citra tak cukup terbangun hanya dengan titel kesarjanaan yang menambah panjang deretan nama, memberi sumbangan di sana sini atau bersuara vokal di media. Membangun citra adalah membangun komunikasi. Tiara Lestari tengah melakukanya. ***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home