Thursday, August 10, 2006

Re-branding Tiara Lestari


MENARIK mencermati upaya rebranding yang tengah dilakukan Tiara Lestari, model Indonesia yang pernah tampil di majalah Playboy Spanyol edisi Agusus 2005 lalu. “Dari sensual ke elegan”, itu slogan citra (tag line) yang ia pilih. Rebranding dari imej model sensual karena tampil di majalah Playboy, menjadi model Indonesia yang elegan, jauh dari keseronokan.

Sejumlah tawaran job untuk tampil seksi pun tak sedikit yang ia tolak, karena ia sudah bertekad melakukan repositioning. “I’m not sensual model. I’m elegance model,” begitu kira-kira komitmen Tiara.

Tiara Lestari memang fenomenal, sampai-sampai dinobatkan sebagai tokoh sensasional oleh Majalah Rolling Stone Indonesia. Ini karena ia menjadi buah bibir banyak orang setelah tampil di Majalah ber-icon kepala kelinci dengan dasi kupu-kupu itu. Tangis ibunyalah yang membawa ia pulang ke Indonesia setelah lama menetap di Singapore untuk kemudian menjadi seorang model yang elegan.

Program rebranding “Dari sensual ke elegan” dibarengi dengan sejumlah brand activity lainnya, mulai dari peluncuran blog pada 27 September 2005 hingga pameran foto-foto terbarunya di pusat perbelanjaan baru Sudirman Palace, Jakarta 22-30 April 2006. Foto-foto karya Ayang Kalake ini pun jauh dari keseronokan, sesuai temanya 'From Sensual to Elegance'.

Memang, imej model porno sangat kental melekat pada diri Tiara, karena ia pernah tampil di Majalah Playboy dan beberapa majalah lainnya seperti FHM Singapura, FHM Jerman, People's Magazine Australia, Penthouse Thailand, Belanda dan Australia.
Bahkan blog pribadinya yang beralamat di tiaralestari.blogspot.com berjudul 'Tiara Lestari's Personal Journal' masih diwarnai oleh beragam komentar pengunjung yang menudingnya sebagai model yang bisa diajak tidur bareng. “Saya nggak perlu menanggapi komentar itu. Tapi saya juga harus tetap jujur untuk tidak menghapus komentar tersebut dari blog saya,” ujar Tiara. Sebuah sikap yang bijak dari rangkaian desain strategi re-branding Tiara.

Yang pasti, blog Tiara begitu banyak dikunjungi oleh masyarakat cyber yang tak hanya dari Indonesia tapi dunia. Memang, indonesia negara yang mendatangkan unique visitor terbanyak, mencapai sekitar 41,1% pada blog Tiara. Menurut catatan Tiara pada Februari 2006 lalu, pengunjung dari Amerika (22,6%), Singapura (8,7%), Malaysia (8,3%), Australia (3%) dan Canada (2,7%). Sedangkan negara-negara lain, semisal Jepang, Jerman, Inggris, Belanda dan Perancis secara kolektif mencapai 6,5% dari total yang ada.

Tiara menurut saya, berhasil melakukan rebranding & repositioning. Dalam waktu singkat, ia mampu mengangkat citra dirinya untuk memasuki dunia baru, dunia tanpa unsur pornografi. Profesi baru pun tengah ia siapkan. Namun belum ia putuskan untuk menjadi bintang film layar lebar, bintang sinetron, presenter, penyanyi atau memuat program acara sendiri di televisi.

Menariknya, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama memutuskan, bidang apa yang akan ia pilih. Secara khusus Tiara membuka poling pengujung untuk memberinya masukan atas pilihan-pilihan tersebut. “Masih belum ada pilihan. Kalau jadi penyanyi kecil kemungkinan. Karena kemampuannya tidak mendukung,” kata Tiara dalam sebuah wawancara media.

Dari poling yang masuk, paling banyak mendukung agar Tiara menjadi bintang film layar lebar. Kemudian diikuti dukungan untuk menjadi presenter dan memiliki program sendiri di televisi. Terakhir, hanya 3 persen yang mendukung ia menjadi penyanyi.

Tiara tengah membangun komunikasi dua arah dengan masyarakat dalam upaya rebranding citranya. Saya sudah dapat membayangkan, apapun pilihan Tiara nantinya, akan menjadi sesuatu yang booming. Jika ia memilih menjadi bintang layar lebar, maka filmnya bakal laku keras. Jika ia memiliki program acara sendiri di televisi, maka acara tersebut akan mendapat ratting tinggi dengan jumlah penonton yang banyak pula.

Apa yang dilakukan Tiara, paling tidak dapat menjadi contoh bagi Anda yang berkepentingan terhadap upaya membangun citra pribadi (personal branding), terlebih-lebih Anda politisi di daerah di era pemilihan langsung saat ini. Citra tak cukup terbangun hanya dengan titel kesarjanaan yang menambah panjang deretan nama, memberi sumbangan di sana sini atau bersuara vokal di media. Membangun citra adalah membangun komunikasi. Tiara Lestari tengah melakukanya. ***

BLUE BIRD

MEMBENTUK brand memang bukan urusan komunikasi pemasaran belaka. Terlebih-lebih untuk bisnis jasa yang bersinggungan langsung dengan klien atau konsumen. Roh brand itu sendiri justru bersumber dari iklim yang dibangun dalam perusahaan.
Pekan lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta untuk sebuah pertemuan bisnis. Dari sebuah hotel di daerah Kemang, saya menggunakan Taksi Blue Bird menuju tempat pertemuan. Sore hari saya kembali ke hotel. Setiba di kamar, saya ditelepon resepsionis yang mengabarkan bahwa ada tas kecil tertinggal di taksi ketika saya berangkat pagi tadi. Alamak! Saya saja lupa kalau ada tas kecil dan ternyata tertinggal di taksi.
Barang tertinggal di Taksi Blue Bird sebenarnya sudah beberapa kali terjadi pada sejumlah teman. Ceritanya berakhir dengan pengembalian barang yang tertinggal. Ada semacam garansi dari Blue Bird bahwa barang yang tertinggal bakal kembali. Tak hanya itu, di Jakarta juga terbentuk imej positif terhadap Blue Bird sebagai taksi yang aman dan nyaman. Bahkan, istri saya selalu mengingatkan agar saya menggunakan Taksi Blue Bird jika bepergian selama di Jakarta.
Saya pun tertarik untuk mencari tahu, apa yang dilakukan manajemen Blue Bird untuk menumbuhkan iklim keamanan dan kenyamanan bagi penumpang. Rasanya, Blue Bird jarang beriklan atau melakukan kegiatan komunikasi pemasaran lainnya untuk membentuk brand ia sebagai taksi yang aman dan nyaman.
Akhirnya, dari sejumlah perbincangan dengan berbagai sumber termasuk beberapa sopir Blue Bird, saya dapat menyimpulkan bahwa manajemen Blue Bird memang sangat konsen membentuk brand imej positif usaha jasa transportasinya, yang dimulai dari internal perusahaan.
“Untuk menjadi sopir di Blue Bird ini saja, susah banget, Pak! Tesnya berat,” kata beberapa sopir. “Tapi kalau sudah jadi karyawan, kita dijamin sejahtera, Pak. Mulai dari gaji sampai dinaikkan haji,” imbuhnya.
Untuk menciptakan iklim ketenangan bekerja dan menumbuhkan kejujuran, manajemen Blue Bird memang sangat memperhatikan masalah kesejahteraan. Ada gaji, ada insentif, bebas biaya berobat untuk para sopir dan keluarganya, bahkan naik haji bagi sopir dengan masa kerja tertentu.
Untuk menjadi karyawan, banyak ujian yang harus dilalui. Ujian kejujuran antara lain dengan cara mengirim orang tertentu yang juga karyawan pool yang berbeda –Blue Bird memiliki beberapa pool di Jakarta. Ketika si penguji berpura-pura sebagai penumpang, ia meninggalkan barang saat mengakhiri perjalanannya. Jika barang tak kembali, maka si sopir dipanggil ke pool untuk diintrogasi.
“Kenapa barang saya nggak Anda kembalikan? Anda nggak jujur ya?!” kata si penguji tadi, yang kemudian terjadilah perdebatan. Si penguji menyebutkan waktu dan tempat dimana ia mulai dan mengakhiri perjalanannya dengan taksi yang tidak jujur tadi.
“Standar pelayanannya, ketika penumpang turun, sopir memeriksa tempat duduk penumpang. Jika ada yang tertinggal, maka tidak keburu diambil oleh penumpang selanjutnya,” kata sopir yang ngobrol dengan saya.
Untuk membuat sopir taksi tidak ugal-ugalan di jalan, manajemen memberi sanksi terhadap taksi yang rusak karena tabrakan atau sekedar nyerempet. Saksi berupa biaya perbaikan yang pembayarannya dengan cara dicicil setiap bulannya. Ini untuk membuat efek jera.
Mobil operasional (taksi) pun tidak menggunakan sistem kepemilikan bagi si sopir. Taksi sepenuhnya milik manajemen Blue Bird. Dengan demikian, ada tanggungjawab yang lebih pada si sopir untuk menjaganya agar tidak tergores atau tabrakan. Penumpang pun merasa nyaman di dalam kendaran.
“Kalau (taksi) menjadi milik kita, sopir mah ugal-ugalan. Merasa milik sendiri. Kalau tabrakan paling istri yang marah. Nggak dirawat, asal aja,” ujar si sopir.Brand memang tak semata menjadi urusan komunikasi pemasaran ataupun public relations. Mulailah dari sikap pimpinan atau manajemen untuk menciptakan iklim yang mendukung kondusifnya lingkungan kerja. Membangun brand, harus dimulai dari diri sendiri. ***

MEREK

JANGAN pernah sepelekan merk! Peringatan ini berlaku untuk anda para pebisnis maupun politisi. Kenapa politisi? Karena saat ini merupakan era brand, era personal branding. Namun khususnya personal branding, akan saya sajikan di tulisan mendatang. Kali ini, saya mencoba bicara soal membangun dan mengukur kekuatan merek.
Merek menurut Giribaldi dalam bukunya “The Fundamental of Branding, didefinisikan sebagai kombinasi dari atribut-atribut, dikomunikasikan melalui nama atau simbol yang dapat mempengaruhi proses pemilihan suatu produk atau jasa pada benak konsumen. Gampangnya, dengan merk (yang kuat), produk atau jasa Anda akan tertanam di benak konsumen.
Merek juga positioning. Apa jadinya jika produk pizza dengan target pasar remaja dan masyarakat menengah ke atas, diberi nama “Pizza Usaha Keluarga”? Nggak gaul gitu loh! Atau, produk sabun detergen diberi nama “Gajah Unggul”. Kaum ibu sebagai pemakai sabun, dipastikan tak akan menggunakannya. Merek ini lebih tepat untuk produk semen.
Di Samarinda, ada sebuah warung makan dengan nama “Warung Tanpa Nama”. Namanya, ya “Tanpa Nama” itu. Karena penasaran, saya tanya ke pemiliknya, apa alasan dia memilih nama warungnya “Tanpa Nama”. “Supaya gampang diingat,” jawabnya. Di satu sisi, si pemilik warung cukup kreatif. Tapi menurut saya, masih lebih baik ia memberi merek untuk tempat usahanya.
Untuk usaha baru, mulailah dengan menciptakan merek yang baik. Pilihlah nama sesuai produk dan target pasar usaha Anda. Ciptakan logo yang menarik dan gampang diingat konsumen. Jangan terlalu rumit membuat desain logo, karena hanya akan memusingkan konsumen. Ciptakan karakter melalui desain logo usaha Anda. Jika Anda kesulitan melakukan desain logo, serahkan pada ahli desain yang sekarang cukup banyak dan gampang ditemui.
Langkah selanjutnya, ciptakan tagline atau slogan citra. Soal apa dan mengapa tagline, sudah pernah saya sajikan beberapa waktu lalu. Ciptakan juga slogan citra yang simple. Jangan lupa, tagline juga menjadi penentu positioning.
Sebagai usaha baru, promosi adalah penting, khususnya untuk membangun brand awareness. Setelah itu, ukurlah seberapa besar kekuatan merk Anda. Ada empat indikator mengukur kesuksesan sebuah merk. Pertama, seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek mana saja yang mereka ingat. Kedua, seberapa jauh konsumen dapat mengenal merek tersebut dalam satu kategori tertentu. Ketiga; seberapa jauh pemilih akan memasukkan merek ke dalam alternatif pilihan ketika mereka akan memilih. Dan keempat; seberapa jauh konsumen masih mengingat merek ketika sedang dalam lingkaran merek lain (pesaing). ***

Beriklan ke Perempuan


JIKA Anda seorang suami, bisa jadi Anda pernah mengalami hal ini; ketika belanja barang kebutuhan rumah di supermarket, Anda menjadi sekedar pendorong kereta barang. Atau, harus menunggu berlama-lama istri Anda yang membaca rincian keterangan produk untuk menentukan membelinya atau tidak.
Kejadian di atas adalah sedikit gambaran betapa telitinya seorang perempuan dalam menentukan sebuah produk yang akan dibelinya, serta gambaran bahwa wanita memiliki pengaruh yang besar dalam pembelian suatu produk. Sejumlah survey di beberapa negara pun menunjukkan bahwa perempuan dominan dalam soal yang satu ini. Apalagi sekarang semakin banyak perempuan yang mandiri secara finansial.
Dengan demikian, tak dapat dipungkiri, perempuan adalah pasar yang sangat potensial. Tak hanya untuk urusan kebutuhan pribadinya, namun juga untuk kebutuhan rumah tangga bahkan kebutuhan suami. Bisa dikatakan, perempuan sebagai menteri keuangan di dalam keluarga.
Survei Nielsen Media Research (NMR) di Singapura tahun 2003 dengan responden 1.000 perempuan, memperlihatkan beberapa temuan menarik. Disebutkan antara lain, perempuan sangat dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian produk rumah tangga (96%), properti (88%) dan mobil (69%). Bahkan untuk menentukan tempat liburan, aspirasi kaum perempuan lebih didengar ketimbang pria. Betapa menentukannya perempuan!
Dengan begitu, jangan sepelekan posisi perempuan jika Anda ingin mempromosikan produk dan jasa Anda. Bahkan bisa jadi, untuk campaign produk cukur kumis sekalipun, perempuan tetap mendapat tempat sebagai main visual di iklan selain lelaki sebagai pengguna produk.
Lantas, bagaimana trik membuat iklan untuk membidik pasar perempuan? Melihat sifat wanita yang teliti dalam memilih sebuah produk atau jasa, maka sajikan informasi yang lengkap mengenai produk atau jasa Anda. Informasi lengkap bukan berarti Anda harus menjelaskan panjang lebar soal produk yang diiklankan, karena hal itu justru menggagalkan misi sebuah iklan.
Wanita juga tak merasa dipusingkan dengan pilihan yang beragam atas sebuah produk. Yang penting, informasi mengenai produk tersebut mampu menjawab seluruh pertanyaan yang muncul dalam benak mereka. Sebut saja misalnya sebuah produk shampo. Ada pilihan shampo untuk rambut keriting dicat, atau rambut lurus berketombe dan sebagainya. Bagi perempuan, menampilkan produk tersebut dalam satu iklan tak menjadi masalah.
Kemudian, tampilkan main visual yang gampang dipahami. Ini mengingat perempuam, terlebih ibu rumah tangga dengan sejumlah perannya mulai dari urusan masak, ngurus suami sampai urusan rekening listrik, tentu menginginkan sesuatu yang simpel sehingga gampang untuk dimengerti. Terlebih-lebih bagi perempuan yang bekerja, tentu memiliki sedikit waktu untuk menyimak sebuah iklan.
Yang tak kalah penting, tonjolkan emotional benefit (keuntungan emosional) dari sebuah produk. Ini mengingat perempuan memiliki aspek emosional yang lebih ketimbang lelaki yang lebih rasional. Positioning produk harus diperhatikan. Perempuan mana yang disasar baik secara usia, gaya hidup maupun tingkatan sosial. Dengan demikian, perempuan ikut merasakan situasi yang disajikan dalam iklan.Terakhir, perhatikan masalah psikologi perempuan, yang cendrung memiliki sifat kebersamaan atau persahabatan, dibanding pria yang lebih individualis. Untuk itu, sajikan visual yang mengedepankan suasana kebersamaan, kekeluargaan atau kekerabatan. Lihat saja iklan Sariwangi, blue band dan pepsodent yang berhasil mensasar kaum perempuan. ***

Amplang vs Cemilan Cik Gu

COBA lihat deretan rak barang di supermarket maupun mini market di daerah ini, agak sulit menemukan Amplang, makanan khas Samarinda. Akan lebih mudah menemukan cemilan sejenis yang diproduksi negara tetangga, Malaysia. Jangan buru-buru menyalahkan pemilik supermarket. Karena ini hukum pasar. Tak ada permintaan konsumen, maka Amplang pun tidak mendapat tempat di rak supermarket.
Amplang baru dapat ditemukan di sejumlah warung maupun toko yang memang khusus menjual barang dan makanan khas daerah. Kalau pun kita datang membelinya, maka selalu muncul pertanyaan dari si penjual,”Untuk oleh-oleh ya, Pak?”
Positioning Amplang tampaknya memang sebagai oleh-oleh dari Kota Samarinda. Dan produsen Amplang cukup puas dengan positioning yang terbangun secara tradisional itu. Padahal, Amplang juga layak sebagai cemilan nonton TV, nonton di bioskop atau teman saat santai. Saya sendiri kerap menjadikan Amplang sebagai cemilan saat keluar kota melalui jalan darat. Enak kok!
Lantas, mengapa pasar Amplang tidak cukup kuat di daerah, dibanding cemilan negeri Cik gu (Pak guru-- bahasa Malaysia)? Padahal, cita rasa amplang cukup bersaing dengan cemilan negeri Cik gu yang relatif lebih asin. Pada konsumen pun, ada kebanggaan yang lebih ketika ngemil produk negeri Cik gu, ketimbang Amplang yang buatan lokal.
Kalau pertanyaan ini dialamatkan ke saya, maka saya selalu mengatakan bahwa produsen Amplang tidak cukup serius menggarap pasarnya, tidak didukung oleh manajemen modren, yang masih mengandalkan sistem bisnis turun temurun. Produsen Amplang mengenyampingkan persoalan upaya memenangkan pasar. Tak pernah bicara soal package (kemasan) dengan desain menarik, tak pernah bicara strategi komunikasi pemasaran untuk menanam brand di benak konsumen dan hal lain yang menunjang pemasaran produknya.
Pengusaha Amplang terlalu berserah diri pada positioning tradisional, yang terbentuk cukup lama bahwa Amplang makanan khas Samarinda yang cocok sebagai oleh-oleh. Maka, konsumennya adalah kaum pendatang yang pasarnya tak cukup besar.
Amplang hanyalah sebagai contoh sebuah produk daerah yang tak terjamah oleh ilmu marketing modern. Sebenarnya masih banyak produk daerah yang senasib dengan Amplang. Sebut saja terasi Bontang. Memang, ada keseriusan yang lebih pada Pemkot Bontang untuk memasarkan produk lokalnya, yakni dengan cara membuka counter makanan khas Bontang di Bandara Sepinggan Balikpapan. Bahkan terakhir Pemkot Bontang mencetak prestasi yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri), lewat pembuatan terasi raksasa saat pesta laut beberapa waktu lalu.
Sebuah brand activity (aktivitas brand) yang patut dihargai. Namun prestasi Muri belum cukup untuk membangun sebuah brand. Masih perlu upaya yang lebih serius lagi dalam menggarap pasar. Jika pasar digarap lebih serius, bisa saja suatu ketika nanti, terasi Bontang cukup dikenal senusantara. Belum enak sebuah makanan, kalau belum pakai terasi Bontang.
Saatnya pengusaha lokal (baca: Kaltim) memahami arti sebuah pasar yang harus digarap maksimal, untuk dapat bersaing dengan produk luar. Sudah saatnya pengusaha lokal bicara brand, untuk memenangkan persaingan tersebut. Karena dalam marketing, persaingan yang sebenarnya adalah merebut benak konsumen, lewat strategi komunikasi pemasaran yang tepat sasaran. Bisa saja suatu saat lahir sebuah tagline; Amplang, Gaul Gitu Loh!. ** (http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Ekonomi&id=157593)

Loyalitas Pelanggan

PERANG merebut pasar antara jagoan mie instan Indomie dengan Mie Sedap, terus berlangsung hangat, bahkan cendrung semakin memanas. Promosi lini atas dan lini bawah terus digenjot. Terakhir, kelompok band beken, Padi, menjadi endoser iklan televisi Mie Sedap dengan intensitas tayang yang cukup tinggi. “Mie Sedap, semuanya suka,” begitu kata Padi dalam lirik lagu iklannya dan “Jelas Terasa Sedapnya” sebagai tagline.
Mie Sedap dari kelompok bisnis Wings ini terus mengepakkan sayapnya, untuk menjadi pemenang pasar. Di promosi lini bawah bawah, Mie Sedap memasang billboard ukuran sedang (sekitar 3x1,5 meter) di banyak titik di berbagai kota, mulai dari pusat kota, kawasan jalan sempit hingga pinggiran kota dan jalan poros.
Belakangan, Indomie pun melakukan hal yang sama, bahkan dengan billboard berukuran sama pula. Dari visual billboardnya, kita dapat menebak kalau Indomie membidik pasar anggota keluarga, khususnya anak kecil dan remaja. Gambar ibu tetap ditampilkan, karena bagaimana pun ibu adalah pengambil keputusan dalam belanja di rumah tangga.
Sebelumnya, Mie Sedap dalam promosinya mencoba membidik semua pasar, dengan iklan televisi yang mengambarkan banyaknya orang makan Mie Sedap dalam sebuah acara dan mengakui bahwa rasa Mie Sedap memang dahsyat.
Mie Sedap tampaknya hingga kini tetap konsisten dengan target pasarnya, Mie Sedap untuk semua. Sedangkan Indomie menegaskan kampanye komunikasinya pada upaya menggarap pasar keluarga, sebagai selera turun temurun.
Sebenarnya, ada keunggulan strategi komunikasi pemasaran pada Indomie, yakni upaya membangun loyalitas konsumen lewat tagline “Selera dari Waktu ke Waktu”, sambil terus menghadapi kampanye Mie Sedap dengan target pasar semua kalangan”.
Strategi komunikasi pemasaran Indomie untuk membangun loyalitas konsumen tampaknya berhasil. Ini dapat dilihat dari hasil survey majalah SWA dan lembaga riset pasar MARS. Hasil survey tersebut menyebutkan indeks loyalitas pelanggan Indomie lebih besar dari Mie Sedap. Indomie berada di puncak urutan indeks loyalitas pelanggan, yang diikuti Mie Sedap di nomor dua dan Gaga 100. Indeks tersebut, Indomie 75,5, sementara Mie Sedap 70,7. Tetapi memang, dibanding riset yang sama di tahun 2005, indeks loyalitas pelanggan Indomie turun 4,5 di tahun 2006 ini. Sedangkan Mie Sedap, tetap di angka 70,7.
Memang, hal yang terpenting sekarang adalah membangun loyalitas pelanggan, terlebih-lebih di tengah keadaan ekonomi saat ini. Pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu, mau tidak mau mengubah prilaku konsumen. Produk dengan harga murah menjadi pilihan konsumen. Jika konsumen tidak cukup loyal dengan produk kita, maka siap-siaplah ditinggal oleh pelanggan. (http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Ekonomi&id=157594)

TAG LINE


JUDUL di atas bisa jadi sebuah kata yang asing bagi sebagian pembaca. Kata ini sering ditemui di majalah ekonomi maupun majalah komunikasi (komunikasi pemasaran, kehumasan dan periklanan).
Di Kamus Istilah Periklanan Indonesia terbitan Matari Advertsing-Gramedia disebutkan, tag line atau slogan citra, yakni kalimat singkat sebagai penutup teks inti yang menyimpulkan secara singkat tujuan komunikasi sebuah iklan.
Saya mencoba memperkaya arti tag line, yakni slogan yang menegaskan positioning dan citra sebuah produk pada sebuah iklan. Dalam sebuah iklan, tag line ini lah yang menjadi kata penting untuk ditanamkan di benak konsumen. Sebut saja tag line Nokia; Connecting people, untuk menjelaskan bahwa Nokia sebagai produk yang sangat mengerti kebutuhan manusia. Kemudian, Oriflame yang mengusung tag line Natural Swedish Cosmetics, atau BNI dengan tag line-nya Melayani Negeri Kebanggaan Bangsa, serta Rinso dengan tag line Berani Kotor Itu Baik.
Esa Communications yang saya pimpin, sudah melahirkan beberapa tag line untuk klien kami. Untuk PT Pelangi Nautika, sebuah perusahaan biro perjalanan di Samarinda, diciptakan tag line “Terbang Bersama Pelangi”. Artinya, untuk urusan terbang, ya Pelangi Nautika.
Kemudian tag line “Saatnya Rakyat Memimpin”, untuk pasangan Ridwan Suwidi-Hatta Gariet ketika harus memenangkan Pilkada di Kabupaten Pasir. Tag line ini lahir mengingat Pasir sebelumnya dipimpin oleh birokrat. Untuk memberikan hasil pembangunan yang lebih pada rakyat Pasir, kini saatnya rakyat yang menjadi pemimpin. Siapa rakyat yang harus memimpin? Dia adalah Ridwan Suwidi, yang puluhan tahun menjadi wakil rakyat di DPRD. Tag line ini pula yang menjadi tema utama kampanye Ridwan-Hatta hingga kemudian memenangkan Pilkada di Pasir.
Sementara untuk Pilkada Bontang, diciptakan tag line “Pastikan yang Pasti” untuk pasangan Sofyan Hasdam-Sjahid Daroini. Ini untuk menegaskan kepada pemilih, agar memastikan memilih figur yang pasti. Pasti programnya, pasti karyanya, seperti yang tercantum di sejumlah iklannya.
Mengapa untuk urusan Pilkada diciptakan tag line? Karena kandidat juga diibaratkan sebuah produk, yang citra atau brandnya harus dibangun dan ditancapkan di benak pemilih. Sehingga dalam komunikasi pemasarannya, diciptakan tag line untuk mendukung kampanyenya.
Tag line dalam sebuah komunikasi pemasaran guna membentuk brand adalah mutlak. Baik untuk mengkomunikasikan produk atau jasa kepada konsumennya.
Di daerah, sudah saatnya kita mulai era tag line. Dalam membuat papan nama atau billboard sebagai identitas tempat usaha, tak lagi hanya sebatas menulis nama usaha dan alamat lengkap. Tetapi juga menempatkan tag line di sana.
Bahkan untuk warung nasi kuning sekalipun, tag line sangat mendukung upaya menarik pelanggan. Misalnya, Warung Nasi Kuning Haji Sukur, dengan tag line “Memulai Pagi Hanya di Sini”. Atau Toko Alat Bangunan Murah Rezeki, dengan tag line “Membangun dengan Kekuatan”. Ayo, kita coba! (**)